Agen TBSBET Online - Istriku Menikmati Bersetubuh Dengan Adikku Toni - Rupanya kejadian tukar pasangan di villa pada cerita seblumnya membuat
kami terkesan dan ada kemungkinan ketagihan. Ini mendebarkan. Seandainya
dia benar-benar ketagihan, apakah mentalku sudah siap? Ah, sudah
kepalangan basah, aku mau jalan terus… karena aku merasakan beberapa hal
positif di balik langkah “baru” ini!
Di hari-hari berikutnya, aneh…tiap kali aku membayangkan kejadian pesta
sex di villa itu, aku membayangkan istriku sedang disetubuhi oleh Benny,
nafsuku mendadak bangkit. Lalu kuajak istriku bersetubuh. Anehnya lagi,
tiap kali aku bersetubuh dengan istriku, aku jadi powerfull dan energik
sekali.
Pernah istriku berkata seusai bersetubuh denganku, “Sekarang Mas jadi garang banget…kenapa Mas? Pake obat ya?”
“Obatku datang dari jiwaku sendiri. Tiap kali membayangkan kamu lagi disetubuhi oleh Benny, hasratku bangkit dengan hebatnya.”
“Masa sih? Apa bukan karena terbayang sintal dan seksinya tubuh Yani?”
Pernah istriku berkata seusai bersetubuh denganku, “Sekarang Mas jadi garang banget…kenapa Mas? Pake obat ya?”
“Obatku datang dari jiwaku sendiri. Tiap kali membayangkan kamu lagi disetubuhi oleh Benny, hasratku bangkit dengan hebatnya.”
“Masa sih? Apa bukan karena terbayang sintal dan seksinya tubuh Yani?”
Nonton film semi xx1 disini
Agen Judi Casino - “Nggak,” aku menggeleng, “sungguh. Untuk membuktikannya, nanti kita
ajak Benny saja, tanpa kehadiran Yani. Biar kamu percaya, titik syurnya
justru waktu menyaksikan kamu digauli Benny.”
“Nggak ah. Nggak enak sama Yani dong. Rasanya kita seperti menghianati dia. Kan kita sudah sepakat untuk jalan berempat terus.”
“Aku gak butuh Yani, aku butuh Benny.”
“Nggak ah. Nggak enak sama Yani dong. Rasanya kita seperti menghianati dia. Kan kita sudah sepakat untuk jalan berempat terus.”
“Aku gak butuh Yani, aku butuh Benny.”
Lina
menatapku dengan sorot penuh selidik. Lalu tertunduk, seperti sedang
berpikir. Lalu kataku, “Kalau ada orang selain Benny, kamu mau?”
Lina menatapku lagi. “Takut ah…kalau orangnya punya penyakit kotor bisa menular nanti.” kata istriku.
“Orangnya kamu pilih sendiri deh,” kataku sambil memperhatikan reaksi istriku.
“Bener nih boleh milih sendiri?” tanyanya canggung.
“Bener.”
“Gak usah jauh-jauh Mas…kalau Toni gimana?”
Aku terkejut. Dia memilih Toni adik kandungku!
Tapi apa salahnya?
“Hmm…pengen nyobain brondong ya?” kataku sambil mencolek pipi istriku.
“Bukan gitu, masalahnya biar rahasia kita gak nyebar ke luar Mas.”
Lina menatapku lagi. “Takut ah…kalau orangnya punya penyakit kotor bisa menular nanti.” kata istriku.
“Orangnya kamu pilih sendiri deh,” kataku sambil memperhatikan reaksi istriku.
“Bener nih boleh milih sendiri?” tanyanya canggung.
“Bener.”
“Gak usah jauh-jauh Mas…kalau Toni gimana?”
Aku terkejut. Dia memilih Toni adik kandungku!
Tapi apa salahnya?
“Hmm…pengen nyobain brondong ya?” kataku sambil mencolek pipi istriku.
“Bukan gitu, masalahnya biar rahasia kita gak nyebar ke luar Mas.”
Aku
setuju. Toni adalah satu-satunya adik kandungku. Dia masih tergolong
abg. Dia tinggal di kota lain dan kuliah di kota itu, baru semester
pertama. Usianya memang jauh beda denganku. Saat istriku mengajukan
namanya, usia Toni baru 18 tahun.
“Oke!” aku mengangguk sambil memijat no hp Toni.
Lina cuma bengong. Mungkin tak menyangka akan secepat itu.
“Hallo, Mas?” terdengar suara Toni di hpku.
“Gimana sehat Toni?”
“Sehat Mas. Besok libur 3 hari, nanti sore mau ke rumah Mas ya. Kangen sama Bernard. Sudah bisa jalan dia?”
“Sudah dong. Ya udah, nanti sore kutunggu ya.”
“Siap Boss!”
Aku tersenyum mendengar ucapan “siap boss” itu. Memang sejak aku yang membiayai kuliahnya, ia sering memanggilku boss.
“Nanti sore dia datang,” kataku sambil menepuk bahu istriku.
“Secepat itu?” istriku tercengang.
“Kebetulan aja, dia mulai besok libur 3 hari. Jadi mulai nanti malam mau nginep di sini.”
“Terus…aku harus gimana? Masa aku langsungajak Toni begituan?”
“Mmm…gimana ya? Mungkin juga Toni gak mau kalau ada aku….tapi gampang deh…kupasangin kamera cctv aja di kamar, terus aku monitor sambil ngumpet.”
“Terus?”
“Kamu rayu aja dia sampai mau. Bilangin aku gak ada, padahal aku ada di gudang sambil monitor di sana. Hmmm…kebayang nafsunya aku nanti waktu lihat kamu disetubuhi sama si Toni…!”
“Ah…Mas ada aja akalnya….”
Dan itulah yang kulakukan. Dengan sigap kupasang kamera cctv, dengan posisi menghadap ke tempat tidur. Monitornya kusimpan di gudang. Kuambil kursi untuk aku duduk di depan monitor.
“Oke!” aku mengangguk sambil memijat no hp Toni.
Lina cuma bengong. Mungkin tak menyangka akan secepat itu.
“Hallo, Mas?” terdengar suara Toni di hpku.
“Gimana sehat Toni?”
“Sehat Mas. Besok libur 3 hari, nanti sore mau ke rumah Mas ya. Kangen sama Bernard. Sudah bisa jalan dia?”
“Sudah dong. Ya udah, nanti sore kutunggu ya.”
“Siap Boss!”
Aku tersenyum mendengar ucapan “siap boss” itu. Memang sejak aku yang membiayai kuliahnya, ia sering memanggilku boss.
“Nanti sore dia datang,” kataku sambil menepuk bahu istriku.
“Secepat itu?” istriku tercengang.
“Kebetulan aja, dia mulai besok libur 3 hari. Jadi mulai nanti malam mau nginep di sini.”
“Terus…aku harus gimana? Masa aku langsungajak Toni begituan?”
“Mmm…gimana ya? Mungkin juga Toni gak mau kalau ada aku….tapi gampang deh…kupasangin kamera cctv aja di kamar, terus aku monitor sambil ngumpet.”
“Terus?”
“Kamu rayu aja dia sampai mau. Bilangin aku gak ada, padahal aku ada di gudang sambil monitor di sana. Hmmm…kebayang nafsunya aku nanti waktu lihat kamu disetubuhi sama si Toni…!”
“Ah…Mas ada aja akalnya….”
Dan itulah yang kulakukan. Dengan sigap kupasang kamera cctv, dengan posisi menghadap ke tempat tidur. Monitornya kusimpan di gudang. Kuambil kursi untuk aku duduk di depan monitor.
Tidak sampai sejam,
semuanya beres. Kameranya kusembunyikan di dalam lemari, lalu ada lubang
kecil yang langsung mengarah ke tempat tidur. Soundnya kupasang
terpisah, mikrofon kusimpan di balik lukisan, untuk memantaunya aku
pakai headphone di gudang.
Ketika bunyi motor Toni terdengar
memasuki pekarangan, aku sudah duduk di dalam gudang, menghadapi
monitor. Lalu terdengar suara istriku menyambutnya. Pada saat yang sama,
hpku yang disilent berkedip-kedip. Ada sms masuk. Aku agak kaget,
karena sms itu datang dari Yani, bunyinya: Mas Jaka…aku kok jadi kangen
gini sih? Kapan kita ketemuan tanpa mereka? Aku pengin nyantai Mas.
Kebetulan Bang Benny besok mau ke Medan. Mas datang ya ke rumahku besok
malam. Jangan takut sama Bang Benny. Aku sudah dapat izin kapan saja
ketemu sama Mas Jaka boleh. Izinnya cuma dengan Mas Jaka, dengan orang
lain tidak boleh.
Aku tersenyum sendiri membaca sms itu, lalu
kubalas dengan sedikit gombal : Aku juga kangen sama Yani…tapi besok aku
harus lihat-lihat dulu apakah besok ada kegiatan atau tidak. Aku siap
kok….waktu di villa terasa sekali Yani itu…hmmm…pokoknya nikmat sekali…!
Yani membalas lagi: Ah yang bener? Kirain aku saja yang merasakan seperti itu. Tapi janji ya, selama Bang Benny di Medan, Mas harus datang ke rumahku.
Kujawab lagi: Iya sayang, aku pasti datang!
Waktu smsan itu mataku tetap tertuju ke monitor. Kamarku masih kosong. Mungkin Toni masih ngobrol dengan istriku di ruang depan.
Yani membalas lagi: Ah yang bener? Kirain aku saja yang merasakan seperti itu. Tapi janji ya, selama Bang Benny di Medan, Mas harus datang ke rumahku.
Kujawab lagi: Iya sayang, aku pasti datang!
Waktu smsan itu mataku tetap tertuju ke monitor. Kamarku masih kosong. Mungkin Toni masih ngobrol dengan istriku di ruang depan.
Tak lama
kemudian kulihat di monitor sudah ada “kehidupan”. Toni masuk ke dalam
kamarku bersama istriku. Cepat kupasangkan headphone di telingaku. Dan
terdengar suara mereka:
“Kamar mandi yang di belakang gak ada shower air panasnya, Toni. Makanya enak di kamar mandi yang ini.”
“Iya Mbak. Ohya, Mas Jaka kapan pulangnya?”
“Gak tau. Tapi kayaknya sih tengah malam nanti, atau mungkin juga besok pagi langsung ke kantor, pulang ke sini besok sore.”
“Kamar mandi yang di belakang gak ada shower air panasnya, Toni. Makanya enak di kamar mandi yang ini.”
“Iya Mbak. Ohya, Mas Jaka kapan pulangnya?”
“Gak tau. Tapi kayaknya sih tengah malam nanti, atau mungkin juga besok pagi langsung ke kantor, pulang ke sini besok sore.”
“Oh gitu…aku mau mandi dulu ya Mbak.”
“Iya. Perlu ditemenin nggak?”
Toni tampak kaget, menatap istriku yang mendadak bersikap centil. “Ah, Mbak Lina…ada-ada saja.”
“Lho…aku nggak main-main kok…”
“Bisa dibunuh aku nanti sama Mas Jaka.”
“Nggak lah….nyante aja lagi…”
Toni tampak bingung sesaat, lalu masuk ke dalam kamar mandi yang bersatu dengan kamarku.
“Iya. Perlu ditemenin nggak?”
Toni tampak kaget, menatap istriku yang mendadak bersikap centil. “Ah, Mbak Lina…ada-ada saja.”
“Lho…aku nggak main-main kok…”
“Bisa dibunuh aku nanti sama Mas Jaka.”
“Nggak lah….nyante aja lagi…”
Toni tampak bingung sesaat, lalu masuk ke dalam kamar mandi yang bersatu dengan kamarku.
Pada
saat yang sama, datang lagi sms dari Yani: Bang Benny sudah berangkat
Mas. Ke rumahku dong sekarang…lagi horny…pengen sama Mas Jaka…abisnya
terkesan sih sama Mas…
Aku tercenung. Kok jadi bentrok gini waktunya ya? Apakah aku harus pergi diam-diam ke rumah Benny? Lalu harus meninggalkan detik-detik yang mendebarkan dan siap kurekam itu?
Yani memang sexy. Tapi saat ini aku lebih tertarik untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Lina dan adikku. Maka kubalas sms Yani: Paling bisa nanti tengah malam atau besok pagi…lagi ada kerjaan yang belum bisa ditinggalin…gimana?
Yani membalas smsku: Iya deh, kutunggu ya Mas…kalau pintu sdh pada dikunci, call aja dulu, biar kubukain…maunya sih nanti tengah malam juga gakpapa…kalau pagi kan kurang romantis…he e e.
Aku tersenyum sendiri. Bakalan sibuk nih aku nanti.
Aku tercenung. Kok jadi bentrok gini waktunya ya? Apakah aku harus pergi diam-diam ke rumah Benny? Lalu harus meninggalkan detik-detik yang mendebarkan dan siap kurekam itu?
Yani memang sexy. Tapi saat ini aku lebih tertarik untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Lina dan adikku. Maka kubalas sms Yani: Paling bisa nanti tengah malam atau besok pagi…lagi ada kerjaan yang belum bisa ditinggalin…gimana?
Yani membalas smsku: Iya deh, kutunggu ya Mas…kalau pintu sdh pada dikunci, call aja dulu, biar kubukain…maunya sih nanti tengah malam juga gakpapa…kalau pagi kan kurang romantis…he e e.
Aku tersenyum sendiri. Bakalan sibuk nih aku nanti.
Sejenak
kulupakan dulu Yani yang setengah memaksaku datang ke rumahnya, karena
kulihat di monitor Toni sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya
melilitkan handuk di tubuhnya, sementara Lina sedang duduk di depan meja
rias.
Lalu:
“Toni…tolong lepasin ritsleting ini dong,” pinta Lina sambil menunjuk ke bagian punggung gaunnya.
“Mmm…aku mau pake baju dulu Mbak…”
“Gak usahlah, pake bajunya nanti saja. Masa minta tolong sedikit saja pake ntar dulu?!”
“Iya, iya Mbak,” sahut Toni sambil menghampiri istriku. Aku yakin ini trik yang sedang dilancarkan oleh istriku, untuk langsung menjebak Toni.
Memang benar dugaanku…waktu Toni menarik ritsliting bagian punggung gaun istriku, kulihat istriku memegang tangan Toni sambil menatapnya: “Toni…”
“Ya Mbak…?” Toni tampak gugup ditatap seperti itu oleh istriku.
“Kamu pernah begituan sama cewek?”
“Ma…maksud Mbak?”
“Masa gak ngerti sih…” kulihat tangan istriku menyergap ke dalam handuk Toni, “Ininya pernah dimainkan sama cewek gak?
Lalu:
“Toni…tolong lepasin ritsleting ini dong,” pinta Lina sambil menunjuk ke bagian punggung gaunnya.
“Mmm…aku mau pake baju dulu Mbak…”
“Gak usahlah, pake bajunya nanti saja. Masa minta tolong sedikit saja pake ntar dulu?!”
“Iya, iya Mbak,” sahut Toni sambil menghampiri istriku. Aku yakin ini trik yang sedang dilancarkan oleh istriku, untuk langsung menjebak Toni.
Memang benar dugaanku…waktu Toni menarik ritsliting bagian punggung gaun istriku, kulihat istriku memegang tangan Toni sambil menatapnya: “Toni…”
“Ya Mbak…?” Toni tampak gugup ditatap seperti itu oleh istriku.
“Kamu pernah begituan sama cewek?”
“Ma…maksud Mbak?”
“Masa gak ngerti sih…” kulihat tangan istriku menyergap ke dalam handuk Toni, “Ininya pernah dimainkan sama cewek gak?
Hihihihi…panjang gede penismu Toni…Mas Jaka kalah sama kamu…sudah keras lagi…”
“Mbak…ohhh…mbak….” Toni tampak gelagapan.
“Mbak…ohhh…mbak….” Toni tampak gelagapan.
Lina
bangkit dari kursi di depan meja rias. Lalu melangkah ke pintu, menutup
dan sekaligus menguncinya. Lalu balik lagi menghampiri Toni yang
berdiri kebingungan, masih dengan handuk melilit di badannya.
Lina melingkarkan lengannya di leher Toni. Dan terdengar suaranya, “Sudah pernah bersetubuh dengan cewek belum?”
“Pernah…” sahut Toni hampir tak terdengar.
Lina tersenyum, “Bagus…berarti kamu sudah pengalaman…aku lagi horny Toni…kamu mau kan? Mumpung Mas Jaka gak ada…”
Lina melingkarkan lengannya di leher Toni. Dan terdengar suaranya, “Sudah pernah bersetubuh dengan cewek belum?”
“Pernah…” sahut Toni hampir tak terdengar.
Lina tersenyum, “Bagus…berarti kamu sudah pengalaman…aku lagi horny Toni…kamu mau kan? Mumpung Mas Jaka gak ada…”
Lina mengakhiri ajakannya dengan menarik handuk yang melilit di pinggang Toni. Ini membuat Toni langsung telanjang bulat.
Dan
kulihat batang kemaluannya sudah ngaceng dengan mantapnya. Aku iri juga
melihat batang kemaluan Toni, yang ternyata lebih panjang dan lebih
besar daripada punyaku. Baru sekali ini aku melihat bentuk batang
kemaluan adikku setelah usianya hampir dewasa begitu.
“Mbak…” Toni
tampak kebingungan, karena Lina sudah memegang zakarnya sambil
mendorong dadanya sehingga terlentang di atas tempat tidurku.
Ini mulai menegangkan bagiku. Kesannya tidak seperti waktu swinger di villa tempo hari. Mungkin karena kali ini aku konsen ke satu arah, ke adegan istriku yang sedang merangsang adik kandungku!
Ini mulai menegangkan bagiku. Kesannya tidak seperti waktu swinger di villa tempo hari. Mungkin karena kali ini aku konsen ke satu arah, ke adegan istriku yang sedang merangsang adik kandungku!
“Iiih…punyamu kok
panjang dan gede gini, Toni…sudah keras sekali lagi…Mas Jaka kalah nih
sama punya kamu…” Lina mulai menciumi penis adikku, membuatku semakin
degdegan. Terlebih ketika ia mulai melepas beha dan celana dalamnya,
yang membuat Toni melotot. Aku juga melotot tegang. Penisku sudah ereksi
sejak tadi, serasa mau ngecrot saja. Tapi kucoba menenangkan diri
dengan menyalakan rokok dan mengikuti adegan selanjutnya.
Setelah
telanjang bulat, istriku menelentang di sisi Toni sambil bergumam,
suaranya tidak begitu jelas. Toni mengangguk, lalu bergerak menindih
dada istriku.
Kusangka Toni mau langsung memasukkan penisnya ke vagina istriku. Ternyata tidak. Dia mulai mengemut-emut puting payudara istriku. Tangan istriku mulai menggapai-gapai di punggung Toni…lalu kepala Toni menurun ke arah perut istriku…turun terus sampai berada di antara kedua pangkal paha istriku. Jantungku semakin dagdigdug, kutenangkan lagi dengan sebatang rokok.
Oooh, kulihat istriku mulai menggeliat dan melenguh-lenguh…Toni semakin agresif menjilati kemaluan istriku….sampai akhirnya kudengar istriku merengek, “Sudah cukup Toni…sekarang… masukin aja Toni…masukin aja sayang…..aku ingin merasakan punyamu yang tinggi besar itu….”
Kusangka Toni mau langsung memasukkan penisnya ke vagina istriku. Ternyata tidak. Dia mulai mengemut-emut puting payudara istriku. Tangan istriku mulai menggapai-gapai di punggung Toni…lalu kepala Toni menurun ke arah perut istriku…turun terus sampai berada di antara kedua pangkal paha istriku. Jantungku semakin dagdigdug, kutenangkan lagi dengan sebatang rokok.
Oooh, kulihat istriku mulai menggeliat dan melenguh-lenguh…Toni semakin agresif menjilati kemaluan istriku….sampai akhirnya kudengar istriku merengek, “Sudah cukup Toni…sekarang… masukin aja Toni…masukin aja sayang…..aku ingin merasakan punyamu yang tinggi besar itu….”
Tapi Toni seperti keasyikan,
terus2an menjilati kemaluan istriku. Sampai istriku merintih lagi,
“Toni…aaaah…aku mau organisme nih…Toni…..aaaahhhh….”
Lalu kulihat istriku mengegelepar…mengelojot dan merintih lirih…”Tooni….ooohhh…aku keluar, sayaaang….”
Toni terdiam sesaat, lalu mulai naik ke atas dada istriku, sambil mengarahkan penisnya ke mulut istriku. Jelas sekali, penis Toni mulai membenam ke dalam liang kemaluan istriku yang sudah berlepotan air liur Toni, mungkin juga bercampur lendir vagina istriku sendiri.
“Oooh…Toni….sudah masuk, sayang…” istriku mendekap punggung Toni.
Lalu kulihat istriku mengegelepar…mengelojot dan merintih lirih…”Tooni….ooohhh…aku keluar, sayaaang….”
Toni terdiam sesaat, lalu mulai naik ke atas dada istriku, sambil mengarahkan penisnya ke mulut istriku. Jelas sekali, penis Toni mulai membenam ke dalam liang kemaluan istriku yang sudah berlepotan air liur Toni, mungkin juga bercampur lendir vagina istriku sendiri.
“Oooh…Toni….sudah masuk, sayang…” istriku mendekap punggung Toni.
Gila,
aku tak tahan melihat semuanya itu. Dan pada waktu kulihat Toni mulai
mengayun batang kemaluannya, kuperiksa komputer yang sedang merekam
adegan dari cctv, semuanya berjalan dengan baik. Lalu diam-diam aku
keluar…
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam taksi
(sengaja aku tidak memakai mobilku sendiri, keluar dari rumah pun
diam-diam, supaya Toni tidak menyadari kehadiranku).
Setengah jam kemudian aku sudah berada di depan rumah Benny.
Yani menyambutku dengan hangat, “Parkir di mana mobilnya, Mas?”
“Pake taksi,” sahutku, “mobil sedang dipakai adikku.”
Semua ini di luar skenario yang sudah kutata dengan istriku. Masalahnya aku tidak mau ganggu adikku, sementara ajakan Yani membuatku tertarik. Biarlah rangsangan yang kutonton dari dalam gudang tadi mau kusalurkan ke Yani. Mudah-mudahan saja istriku tidak marah karena aku pergi secara diam-diam begini. Aku juga ingin menikmati tubuh Yani tanpa kehadiran Benny. Dan tampaknya Yani pun sama seperti keinginanku, ingin bercinta tanpa kehadiran suaminya.
Yani menyambutku dengan hangat, “Parkir di mana mobilnya, Mas?”
“Pake taksi,” sahutku, “mobil sedang dipakai adikku.”
Semua ini di luar skenario yang sudah kutata dengan istriku. Masalahnya aku tidak mau ganggu adikku, sementara ajakan Yani membuatku tertarik. Biarlah rangsangan yang kutonton dari dalam gudang tadi mau kusalurkan ke Yani. Mudah-mudahan saja istriku tidak marah karena aku pergi secara diam-diam begini. Aku juga ingin menikmati tubuh Yani tanpa kehadiran Benny. Dan tampaknya Yani pun sama seperti keinginanku, ingin bercinta tanpa kehadiran suaminya.
Aku sudah terangsang oleh adegan Toni
dengan adikku tadi. Maka ketika Yani menguncikan pintu depan, aku
memeluknya dari belakang, “Mana pembantumu?”
“Pulang,” sahutnya, “dia kan cuma kerja sampai jam empat sore.”
“Jadi sekarang Yani cuma sendirian?”
“Iya Mas…makanya aku ngajak Mas…biar ada yang nemenin…” Yani yang sedang mengenakan kimono putih bermotif bunga Sakura, membalikkan tubuhnya dan mencium bibirku dengan hangat.
“Pulang,” sahutnya, “dia kan cuma kerja sampai jam empat sore.”
“Jadi sekarang Yani cuma sendirian?”
“Iya Mas…makanya aku ngajak Mas…biar ada yang nemenin…” Yani yang sedang mengenakan kimono putih bermotif bunga Sakura, membalikkan tubuhnya dan mencium bibirku dengan hangat.
Tentu aku tak mau
berdiam pasif…ketika dia meraihku ke sofa, tanganku mulai menyelinap ke
belahan kimononya, langsung menyentuh payudara montoknya yang sejak tadi
kuyakini tidak mengenakan beha, karena kedua putingnya tampak menonjol
meski masih tertutup kimono. Terasa menghangat tubuh Yani setelah aku
berhasil memegang payudaranya…meremasnya dengan lembut…
Tak cuma
itu…tanganku yg satu lagi mulai menyelinap ke balik celana dalam Yani,
mulai menyentuh jembutnya yang lebat…mulai menyelinap ke celah
surgawinya yang mulai membasah dan hangat. Napas Yani mulai
tertahan-tahan.
Apa yang sedang terjadi di antara istriku dengan Toni, terlintas-lintas terus dalam terawanganku. Pasti mereka sedang gila-gilanya memadu kenikmatan. Membuat darahku tersirap-sirap….lalu membuatku mulai ganas menggeluti tubuh Yani sebagai kompensasi…sampai akhirnya Yani mengajakku pindah ke kamarnya. Aku setuju.
Apa yang sedang terjadi di antara istriku dengan Toni, terlintas-lintas terus dalam terawanganku. Pasti mereka sedang gila-gilanya memadu kenikmatan. Membuat darahku tersirap-sirap….lalu membuatku mulai ganas menggeluti tubuh Yani sebagai kompensasi…sampai akhirnya Yani mengajakku pindah ke kamarnya. Aku setuju.
Di dalam
kamarnya, Yani menanggalkan kimononya dengan senyum mengundang. Sehingga
tinggal celana dalam yang melekat di tubuh tinggi montoknya itu. Dalam
keadaan seerotis itu, dia meraih kedua pergelangan tanganku, dengan
senyum manis di bibirnya. Aku Tak mau buang-buang waktu lagi.
Kutanggalkan celana jeans dan shirtku, lalu merapat ke tubuh Yani dalam
keadaan sama-sama tinggal bercelana dalam saja.
Hawa hangat
tersiar dari tubuh Yani ketika aku mulai menggumulinya. Sempat juga
kudengar bisikannya, “Makasih Mas…Mas datang tepat pada saat aku butuh
Mas…”
Aku tidak menanggapinya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Aku bukan orang hipokrit. Aku juga sangat membutuhkan variasi dalam kehidupan seksualku, supaya perjalanan hidupku tidak terasa hambar….
Aku tidak menanggapinya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Aku bukan orang hipokrit. Aku juga sangat membutuhkan variasi dalam kehidupan seksualku, supaya perjalanan hidupku tidak terasa hambar….
Ketika tanganku mulai menyelinap lagi ke balik CD Yani,
aku pun membiarkan tangan Yani menyelinap ke balik Cdku. Dan ketika
tanganku mulai mengelus kemaluan Yani, aku pun rasakan Yani mulai
menggenggam dan meremas batang kemaluanku dengan hangat dan lembut.
“Sudah keras banget Mas,” bisiknya.
“Iya…sejak smsan tadi, punyaku ngaceng terus…” sahutku bercampur dusta. Karena sebenarnya aku sedang membayangkan istriku sedang enak2nya disetubuhi oleh Toni, adikku yang masih sangat muda itu.
“Sudah keras banget Mas,” bisiknya.
“Iya…sejak smsan tadi, punyaku ngaceng terus…” sahutku bercampur dusta. Karena sebenarnya aku sedang membayangkan istriku sedang enak2nya disetubuhi oleh Toni, adikku yang masih sangat muda itu.
Lalu
tanpa basa basi lagi kutempelkan moncong ku di mulut Yani yang sudah
membasah itu…secara reflex Yani merenggangkan kedua kakinya…dan kudorong
batang kemaluanku sampai masuk sedikit…terdengar desisan mulut Yani
sambil melotot…kukocok2 sedikit zakarku, sampai akhirnya membenam
sekujurnya di dalam liang surgawi Yani.
Balik lagi ke cerita
istri. Aku mencintai Mas Jaka dengan sepenuh hati. Tapi mengapa semuanya
ini harus terjadi? Bisakah aku disalahkan, sedangkan semua yang telah
kualami adalah “hasil karya” suamiku sendiri?
Aku harus jujur mengakuinya bahwa aku telah menikmati semuanya, meski dengan perasaan bersalah. Tadinya kuanggap semuanya itu gila. Tapi ternyata ada greget yang luar biasa, yang menimbulkan nikmat dan sensasi luar biasa.
Aku harus jujur mengakuinya bahwa aku telah menikmati semuanya, meski dengan perasaan bersalah. Tadinya kuanggap semuanya itu gila. Tapi ternyata ada greget yang luar biasa, yang menimbulkan nikmat dan sensasi luar biasa.
Aku
masih ingat benar waktu terjadinya petualangan tukar pasangan di villa
Benny itu, aku kaget sekali setelah menyadari bahwa yang sedang
menyetubuhiku adalah Benny, bukan suamiku.
Aku juga kaget ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yani. Oh my God! Apa yang sedang terjadi ini? Tapi lalu kusadari bahwa semuanya itu direncanakan oleh mereka, oleh Benny dan suamiku. Sedangkan batang kemaluan Benny sudah telanjur berada di dalam liang kemaluanku, aku sudah telanjur merasakan nikmatnya entotan Benny yang memang lebih panjang dan lebih besar daripada punya suamiku. Akhirnya aku memejamkan mata dan mulai menikmatinya dengan perasaan melayang-layang.
Aku juga kaget ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yani. Oh my God! Apa yang sedang terjadi ini? Tapi lalu kusadari bahwa semuanya itu direncanakan oleh mereka, oleh Benny dan suamiku. Sedangkan batang kemaluan Benny sudah telanjur berada di dalam liang kemaluanku, aku sudah telanjur merasakan nikmatnya entotan Benny yang memang lebih panjang dan lebih besar daripada punya suamiku. Akhirnya aku memejamkan mata dan mulai menikmatinya dengan perasaan melayang-layang.
Tetapi kreativitas
sex Mas Jaka tak berhenti sebatas itu saja. Pada suatu hari dia
mengungkapkan rencana baru, yaitu niatnya untuk menjebak orang lain
untuk menggauliku dan ia sendiri akan mengintipnya. Menurutnya hal itu
akan membangkitkan nafsunya yang luar biasa.
Lalu kuusulkan orang lain itu Toni, adik Mas Jaka sendiri. Ternyata usulku disetujui, meski dengan sedikit sindiran bahwa aku seneng brondong. Rencana itu jelas mendebarkan. Meski buat orang lain mungkin merupakan hal yang aneh dan tak masuk di akal. Tapi aku sendiri merasakan hal yang sama, ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yani istri benny, perasaanku dibakar cemburu, tapi lalu kulampiaskan kecemburuanku dengan meladeni Benny seedan mungkin. Dan rasanya luar biasa. Belum pernah kurasakan hubungan sex senikmat itu.
Lalu kuusulkan orang lain itu Toni, adik Mas Jaka sendiri. Ternyata usulku disetujui, meski dengan sedikit sindiran bahwa aku seneng brondong. Rencana itu jelas mendebarkan. Meski buat orang lain mungkin merupakan hal yang aneh dan tak masuk di akal. Tapi aku sendiri merasakan hal yang sama, ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yani istri benny, perasaanku dibakar cemburu, tapi lalu kulampiaskan kecemburuanku dengan meladeni Benny seedan mungkin. Dan rasanya luar biasa. Belum pernah kurasakan hubungan sex senikmat itu.
Lalu terjadilah sesuatu yang merupakan wujud dari rencana suamiku sendiri. Bahwa Toni masuk ke dalam perangkapku.
Apakah Toni lebih dominan memberikan kepuasan padaku? Tentu saja. Dia Masih bujangan. Zakarnya terasa keras sekali waktu membenam ke dalam liang kemaluanku. Dan gesekan-gesekannya terasa begitu mantap…lebih mantap daripada suamiku.
Tapi apakah dengan peristiwa-peristiwa edan itu cintaku pada Mas Jaka mulai pudar? Tidak! Aku malah semakin mencintainya, karena dia telah menciptakan sesuatu yang membuat kepuasan luar biasa padaku.
Apakah Toni lebih dominan memberikan kepuasan padaku? Tentu saja. Dia Masih bujangan. Zakarnya terasa keras sekali waktu membenam ke dalam liang kemaluanku. Dan gesekan-gesekannya terasa begitu mantap…lebih mantap daripada suamiku.
Tapi apakah dengan peristiwa-peristiwa edan itu cintaku pada Mas Jaka mulai pudar? Tidak! Aku malah semakin mencintainya, karena dia telah menciptakan sesuatu yang membuat kepuasan luar biasa padaku.
Malam itu Toni sampai tiga kali ejakulasi,
karena baru sebentar istirahat dari ejakulasi pertama, zakarnya kembali
menegang. Dan persetubuhan yang ketiga kalinya adalah hasil
rangsanganku, membuat dia bersemangat menyetubuhiku untuk ketiga
kalinya.
Aku tahu bahwa semua yang kulakukan dengan Toni disorot oleh kamera cctv dan dimonitor oleh suamiku. Dan semuanya itu memang kehendak suamiku sendiri. Tapi setelah Toni keluar dari kamarku, setelah aku selesai membersihkan memekku di kamar mandi, Mas Jaka tak muncul juga. Lebih dari sejam aku menunggu, dia tak muncul-muncul. Apakah dia ketiduran di kamar gudang monitoring itu?
Aku tahu bahwa semua yang kulakukan dengan Toni disorot oleh kamera cctv dan dimonitor oleh suamiku. Dan semuanya itu memang kehendak suamiku sendiri. Tapi setelah Toni keluar dari kamarku, setelah aku selesai membersihkan memekku di kamar mandi, Mas Jaka tak muncul juga. Lebih dari sejam aku menunggu, dia tak muncul-muncul. Apakah dia ketiduran di kamar gudang monitoring itu?
Aku jadi serba salah.
Mau mengetuk pintu gudang, takut dia lagi asyik melakukan sesuatu. Yah,
akhirnya aku rebahan dengan tubuh lemas, karena tenagaku seperti dikuras
waktu meladeni Toni tadi.
Menjelang subuh, ketika aku sudah tidur nyenyak, terdengar pintu kamar dibuka, suamiku masuk.
Karena masih terkuasai alam tidur, aku bertanya lemah, “Kok baru masuk? Tadi ngapain aja?”
Suamiku mencium pipiku sambil berbisik, “Jangan marah ya…tadi aku ke rumah Benny.”
“Terus?” tanyaku sambil menggesek mataku.
“Janji dulu, kamu gak marah ya.”
“Iya janji. Ngapain ke rumah Benny?”
“Mmm…Yani ngajak ml…karena Benny lagi ke Medan…”
“Pantesan…” cetusku sambil mencubit lengan suamiku, “Asyik dong…”
Suamiku cuma nyengir, lalu katanya, “Kamu juga kan asyik sama si Toni tadi…”
“Jadi Mas gak nonton aku sama Toni tadi?”
“Nonton sebentar, terus pergi diam-diam karena aku keburu horny. Tapi semuanya kan direkam. Nanti bisa kutonton rekamannya.”
“Ih…nanti kalau Benny juga ngajak aku diam-diam gimana?”
“Mau balas dendam? Hahaha…gak papa. Yang penting laporan sama aku. Kan aku juga laporan bahwa tadi aku sama Yani.”
“Ih…kita kok jadi begini Mas?”
“Kamu nyesel? Jangan nyesel dong, tenang aja lagi.”
Karena masih terkuasai alam tidur, aku bertanya lemah, “Kok baru masuk? Tadi ngapain aja?”
Suamiku mencium pipiku sambil berbisik, “Jangan marah ya…tadi aku ke rumah Benny.”
“Terus?” tanyaku sambil menggesek mataku.
“Janji dulu, kamu gak marah ya.”
“Iya janji. Ngapain ke rumah Benny?”
“Mmm…Yani ngajak ml…karena Benny lagi ke Medan…”
“Pantesan…” cetusku sambil mencubit lengan suamiku, “Asyik dong…”
Suamiku cuma nyengir, lalu katanya, “Kamu juga kan asyik sama si Toni tadi…”
“Jadi Mas gak nonton aku sama Toni tadi?”
“Nonton sebentar, terus pergi diam-diam karena aku keburu horny. Tapi semuanya kan direkam. Nanti bisa kutonton rekamannya.”
“Ih…nanti kalau Benny juga ngajak aku diam-diam gimana?”
“Mau balas dendam? Hahaha…gak papa. Yang penting laporan sama aku. Kan aku juga laporan bahwa tadi aku sama Yani.”
“Ih…kita kok jadi begini Mas?”
“Kamu nyesel? Jangan nyesel dong, tenang aja lagi.”
Subuh
itu suamiku tidak melakukan apa-apa padaku. Mungkin dia sudah kecapean
menyetubuhi Yani. Tapi aku sendiri juga masih lemas karena habis
melayani adik iparku yang masih sangat tangguh itu. so, tunggu kisah
selanjutnya yah dilain waktu..
Posted by : 289bet.com
